Menjalani peran ganda sebagai pekerja profesional dan orang tua adalah tantangan besar yang menguras energi fisik maupun mental. Di era modern yang menuntut produktivitas tinggi, banyak orang tua terjebak dalam siklus kelelahan kronis atau yang sering dikenal sebagai burnout. Kondisi ini bukan sekadar rasa capek biasa, melainkan kelelahan emosional yang membuat seseorang merasa kehilangan motivasi dan efektivitas baik di kantor maupun di rumah. Untuk menjaga keseimbangan ini tetap stabil, diperlukan strategi manajemen diri yang matang serta keberanian untuk menetapkan batasan yang jelas agar kesehatan mental tetap terjaga dengan baik.
Langkah awal yang paling krusial adalah menyadari bahwa menjadi sempurna di kedua peran tersebut secara bersamaan adalah ekspektasi yang tidak realistis. Banyak orang tua mengalami tekanan karena ingin menjadi karyawan teladan sekaligus orang tua yang selalu hadir setiap saat tanpa celah. Penerimaan diri atas keterbatasan manusiawi merupakan fondasi utama untuk mencegah stres berlebih. Dengan menurunkan standar kesempurnaan dan fokus pada kualitas interaksi dibandingkan kuantitas, Anda dapat mengurangi beban pikiran yang menjadi pemicu utama munculnya gejala burnout dalam kehidupan sehari-hari.
Menetapkan Batasan Tegas Antara Pekerjaan dan Kehidupan Domestik
Salah satu penyebab utama burnout adalah kaburnya garis pemisah antara urusan kantor dan urusan rumah, terutama bagi mereka yang bekerja dengan sistem jarak jauh atau memiliki akses email pekerjaan di ponsel pintar. Untuk mengatasi hal ini, Anda harus memiliki ritual transisi yang jelas. Misalnya, setelah jam kerja berakhir, simpan semua perangkat kerja dan fokus sepenuhnya pada anak-anak. Batasan ini berfungsi untuk memberikan waktu bagi otak untuk beristirahat dari tekanan target pekerjaan dan berpindah ke mode pengasuhan yang lebih santai namun tetap bermakna.
Selain batasan waktu, komunikasi yang jujur dengan atasan dan rekan kerja juga sangat diperlukan. Sampaikan jadwal Anda dengan transparan, sehingga mereka mengetahui kapan Anda bisa dihubungi dan kapan Anda sedang menjalankan peran sebagai orang tua. Lingkungan kerja yang suportif biasanya akan menghargai kejujuran ini selama produktivitas Anda tetap terjaga pada jam operasional. Di sisi lain, di dalam rumah, delegasikan tugas domestik kepada pasangan atau anggota keluarga lainnya. Jangan mencoba memikul semua beban rumah tangga sendirian, karena kolaborasi tim di dalam keluarga adalah kunci utama agar energi Anda tidak terkuras habis sebelum hari berakhir.
Pentingnya Self Care dan Manajemen Prioritas yang Efektif
Seringkali orang tua merasa bersalah saat mengambil waktu untuk diri sendiri, menganggapnya sebagai tindakan egois. Padahal, self-care atau perawatan diri adalah investasi agar Anda memiliki energi yang cukup untuk merawat orang lain. Luangkan waktu setidaknya lima belas hingga tiga puluh menit setiap hari untuk melakukan aktivitas yang Anda sukai, seperti membaca buku, berolahraga ringan, atau sekadar menikmati kopi tanpa gangguan. Tubuh dan pikiran yang segar akan membuat Anda lebih sabar menghadapi tantangan di kantor maupun dinamika perilaku anak di rumah.
Manajemen prioritas juga memegang peranan penting dalam mencegah kelelahan hebat. Gunakan skala prioritas untuk menentukan tugas mana yang harus segera diselesaikan dan mana yang bisa ditunda atau diabaikan. Fokuslah pada metode “deep work” saat bekerja agar tugas selesai lebih cepat dan efisien, sehingga Anda tidak perlu membawa beban pekerjaan ke meja makan. Dengan mengatur ritme hidup yang lebih teratur dan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk bernapas, peran ganda sebagai pekerja dan orang tua tidak akan lagi terasa sebagai beban yang menghimpit, melainkan sebuah perjalanan hidup yang harmonis dan penuh kebahagiaan bagi seluruh anggota keluarga.
